Langsung ke konten utama

Pengalaman Pribadi Daftar KIPK: Dari Ragu Sampai Lolos Seleksi Mandiri PTS!

Pendahuluan

Waktu pertama kali dengar tentang KIP Kuliah, aku sama sekali nggak ngerti harus mulai dari mana. Informasinya banyak, syaratnya panjang, dan rasanya rumit. Tapi... setelah aku coba jalani sendiri, ternyata prosesnya bisa dilewatin dengan tenang asal ikut langkah-langkahnya (sesuai prosedur) pastinya.

Selain artikel pertama yang aku publish, melalui artikel ini aku mau berbagi pengalaman daftar KIPK, dari pengenalan sejak SMA, jalani tahapannya sendiri sampai tips sederhana yang biasanya bikin bingung tapi bagus buat dijadikan pembelajaran.


Kenapa sih Aku Daftar KIPK?

Sejujurnya, keputusan untuk daftar KIPK itu bukan sesuatu yang langsung muncul di kepalaku. Aku butuh waktu untuk benar-benar yakin. Waktu itu, aku masih bingung antara “berani mencoba” atau “takut nggak diterima karena merasa nggak cukup layak”. Tapi ada 3 alasan yang akhirnya mendorong aku buat nekat daftar :) 


1. Latar belakang ekonomi keluarga

Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja keras, tapi penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku bisa lihat ibu sebenarnya ingin mendukung kalau aku kuliah, tapi ada kekhawatiran yang jelas di matanya. Yap, masalah biaya! tak terbayangkan berapa juta yang akan dikeluarkan tiap semester, baik biaya UKT, buku, ongkos, makan, dsb.

Aku mulai berpikir:

Kalau aku bisa dapat bantuan, aku bisa kuliah tanpa terlalu membebani Ibu.

Dan itulah yang menjadi motivasi terbesarku.


2. Rasa Penasaran “Apa Aku Bisa Lolos?”

Ada juga sedikit rasa penasaran. Aku ingin tahu apakah data dan kondisiku memenuhi syarat. Aku ingin melihat sejauh mana aku bisa melangkah kalau aku berusaha maksimal.

Bayangin kalau ternyata aku lolos. Itu bukan cuma buat aku, tapi juga buat orang tuaku.


3. Harapan untuk membantu ekonomi keluarga

Ini adalah alasan yang paling kuat.

Aku ingin kuliah, dapat kerja yang baik, dan suatu hari bisa membantu orangtuaku. Ada banyak hal yang ingin aku pelajari, banyak impian yang rasanya nggak bisa tercapai kalau aku berhenti hanya sampai di SMA. Aku sadar bahwa pendidikan adalah jalan paling realistis buat mengubah hidupku dan keluarga.



Awal daftar KIPK sebelum Finalisasi SNBP

Jujur, ini momen yang bikin aku paling bingung. Aku kesana kemari buka sosmed untuk mencari informasi tentang KIPK dan beasiswa lainnya. Dan puncaknya di kelas 12. Beberapa kampus yang mulai datang dalam acara campus fair di sekolahku pun aku tanya mereka karna kebetulan kampusnya menyediakan beasiswa KIPK.

Waktu itu kebanyakan kakak-kakak dari berbagai PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang mengisi acaranya, disitu aku ragu dan tetap mencari peluang untuk memprioritaskan PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Kenapa ragu? jelas yang aku lihat adalah biayanya, hehe.

Sampailah di pengumuman kuota sekolah dan eligible (peringkat 100 besar siswa/i dari masing-masing jurusan). Disinilah letak bingung pertama, pemilihan PT tujuan. Aku ingin masuk PTN, tapi ibuku bilang "boleh kalau dapat beasiswa, tapi harus yang terdekat agar PP/pergi pulang saja" sedangkan yang terdekat adalah UI & PNJ. Tidak asing bukan? impian ribuan calon mahasiswa memperjuangkan PTN dengan yellow jacket-nya itu.

Awalnya minatku memang kesana karena pada saat itu aku sedang tertarik dengan mata pelajaran sejarah. Dan benar saja, aku memilih 2 program studi dari FIB UI yaitu: Arkeologi Indonesia (S1) dan Sastra Rusia (S1).

Hari finalisasi SNBP pun tiba. Waktu itu sekitar jam 13.00 kelasku sudah berada di ruang multimedia. Suasana campur aduk, tapi tetap kondusif. Melalui komputer, masing-masing siswa membuka Portal SNPMB, membuka pendaftaran SNBP, mengisi data, dan... aku teringat tentang KIPK! langsung kuhampiri ketua kelas untuk menanyakan daftar seleksi di KIPK dulu atau finalisasi dulu, karna ini pertanyaan besar akan kekhawatiran kami yang takut KIPK tidak sinkron dengan pilihan yang kami pilih di pendaftaran SNBP. Jawabannya, KIPK terlebih dahulu! soal sinkronisasi itu sudah otomatis nantinya saat lolos SNBP.


SNBP Gagal? Aku Coba Lagi Lewat SNBT!

Agak nyesek ga sih sedikit pas liat layar merah kayak gini, ngerasa gagal banget, huhu:(


Kataku dalam hati: Kalau aja 5 semester kemarin aku bener-bener perjuangin, mungkin bisa layarnya biru dan ber-barcode nih...

Eitss.... buat kamu yang pernah/sedang di situasi sama, gaboleh hopeless terus yaa! pintu pertama adalah pembelajaran pertama untuk berkesempatan di pintu selanjutnya.

Balik lagi ke pengalamanku, kali ini aku nekat tetap memilih 2 PTN terdekat lagi. Terdapat 3 pilihan yang aku pilih, yaitu: Ilmu Administrasi Negara (S1), Hubungan Masyarakat (D3), dan Akuntansi Keuangan (D4). Pilihan ini tentunya adalah pilihan yang aku pilih menurut kemampuanku saat tryout UTBK, awalnya. Karena pada saat aku mendaftarkan diri ini, tepat selepas Maghrib di hari yang sama dengan pengumuman SNBT, 18 Maret 2025 dan langsung diarahkan untuk sinkronisasi KIPK. Masih ada sedikit tekanan untuk mendaftar lagi untuk membuktikan keseriusanku melanjutkan kuliah ke ibuku, yang mungkin takut kalau bilang "ini aja kamu gagal, gimana kalau tes?".

Saat dilaksanakannya UTBK ini, aku masih menaruh harapan besar untuk lolos. Dengan materi yang sudahku pelajari, aku merasa cukup yakin hingga di tanggal 28 Mei 2025 tampak di layar:


Gagal lagi? apakah kata-kata "pintu pertama adalah pembelajaran pertama untuk berkesempatan di pintu selanjutnya" bisakah menjadi: pintu kedua adalah pembelajaran kedua untuk berkesempatan di pintu selanjutnya? jawabannya.. BISA BANGET! lanjut nih ke akhir.


Notifikasi Spesial di Titik Menyerah "Fix Gapyear Ajalah"

"Universitas Gunadarma (UG): Selamat sdr/i Rizky Regina P./NISN Lolos tahap 1 KIP Kuliah.. Informasi kunjungi (web kemahasiswaan, program KIPK UG) dengan... Baca Selengkapnya" -31 Juli 2025, pukul 12.08.

Sebelumnya, notifikasi kampus lewat WhatsApp sudah biasa. Kalau ini? Maa Syaa Allah, luar biasa. Bahkan aku sampai lupa, kapan ya aku daftar seleksi mandiri PTS? saking udah nyerahnya gagal dan jika ku lihat email.. sekitar bulan Juni.

Pikiranku yang sudah hopeless untuk kuliah tahun ini, tetap meneruskan seleksinya di tahap 2 Pengisian data diri dan nilai rapor dengan diam-diam tanpa seorangpun kuberi tahu termasuk ibuku (kalau terlalu excited, kemungkinan gagal bisa saja terjadi). Dan yap, lolos! selanjutnya tahap 3 yaitu pengisian/scan berkas yang bisa dibilang mudah karna berkas-berkas persiapan kalau lolos seleksi sebelumnya sudah ada dan siap jadi aku bisa gunakan untuk ini.

Saat tahap 3 lolos, lanjut ke tahap yang paling dag dig dug, tahap 4 wawancara! Tahap inilah yang paling membuat perasaanku campur aduk. Senang, bingung, sedih, hopeless lagi, sampai kembali semangat. Karna apa? karnaaa.. aku belum mendapatkan notifikasi lolos/tidaknya tahap wawancara. Padahal teman-temanku (yang gelombangnya sama) sudah dapat notifikasi WhatsApp untuk memasuki grup. Nangis, berusaha ikhlas lagi? ya, ikhlas-in! tapi...

Seminggu setelah jadwal pengumuman tahap 4:

Alhamdulillah, lolos!
Tapi, ini bukan akhir untuk bersenang-senang.

Ini adalah motivasi awal dalam mendukung pendidikanku, masa depanku, serta mendukung aku untuk berkontribusi/berperan aktif dalam memajukan sumber daya manusia untuk Indonesia-ku tercinta.

Terimakasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (kemendiktisaintek) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) selaku pengelola KIP Kuliah, kepada Ibu rektor Universitas Gunadarma, Prof. Dr. E.S. Margianti, SE. MM. atas kesempatan dan hak yang diberikan kepada saya dan teman-teman mahasiswa jalur KIP Kuliah, kepada Ibu Dr. Marliza Ganefi Gumay SKom., MMSI. selaku pembina KIP Kuliah Universitas Gunadarma, serta pihak lainnya yang turut berperan dalam kelancaran proses ini. 

Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf. Segala kritik dan saran yang membangun sangat berarti dalam kesempurnaan artikel ini, dapat disampaikan di kolom komentar. Terimakasih telah membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaget Jadi Maba? Tenang, Kamu Gak Sendirian kok, Berikut Ini 8 Penyebab dan Tips Terbaik untuk Mengatasinya

Masuk kuliah merupakan fase transisi yang besar. Banyak orang mikir kuliah itu hanya “sekolah dengan versi yang lebih bebas”, padahal sebenarnya ialah dunia baru yang cara kerjanya berbeda. Karena itu, culture shock hampir pasti dialami mahasiswa baru, entah itu ringan atau bahkan yang berat sekalipun. Halooo... Aku Ririz, penulis pemula di blogger . Di artikel kali ini, aku akan membahas apa saja culture shock paling nyata yang aku dialami selama minggu pertama menjadi maba , kenapa bisa terjadi , dan cara adaptasi terbaik supaya kamu tetap produktif dan tetap menikmati masa kuliah . Dari yang terlihat pada umumnya, kehidupan kampus itu keren ga sih? jadwal yang fleksibel, lingkungan lebih bebas dan luas, lebih banyak organisasi seru, dan kesempatan bertemu orang-orang baru dari berbagai daerah. Tapi... ketika hari pertama benar-benar tiba, banyak maba yang sadar bahwa dunia kampus ternyata tidak se-“simple” yang dibayangkan. Kayak yang dilihat di film, pemerannya cuma kupu-kupu ...

Belajar dari Pengalaman: Mengapa Chat Dosen Terlalu Panjang Malah Sering Di-ghosting?

Halo teman-teman mahasiswa!  Kembali lagi nih di Ceritanya Ririz. Pernah enggak sih, kamu udah meluangkan waktu 15 menit demi menyusun chat se-rapih mungkin ke dosen pembimbing atau dosen matakuliah? Mulai dari salam yang super formal, permohonan maaf yang berlapis-lapis, mengenalkan diri dari nama, NIM, kelas, jurusan, fakultas, sampai ke nama universitas. Kamu baca ulang tiga kali, merasa ini udah "format lengkap paling sopan", lalu klik send . Hasilnya? Cuma di-read. Atau lebih parah, dibalas dua hari kemudian dengan satu kata: "Ya." atau  "Ke ruangan saya besok." Sakit sih, tapi nyata. Di sini kita sering salah kaprah. Banyak dari kita yang mengira bahwa semakin panjang dan lengkap sebuah chat, maka akan semakin dinilai sopan oleh dosen. Padahal, kenyataannya? Enggak semua dosen punya waktu (dan kesabaran) buat baca esai di WhatsApp. Kali ini, Ririz mau berbagi POV / sudut pandang kenapa chat pendek yang langsung ke inti justru lebih disukai dosen, te...