Langsung ke konten utama

Belajar dari Pengalaman: Mengapa Chat Dosen Terlalu Panjang Malah Sering Di-ghosting?

Halo teman-teman mahasiswa! 

Kembali lagi nih di Ceritanya Ririz.

Pernah enggak sih, kamu udah meluangkan waktu 15 menit demi menyusun chat se-rapih mungkin ke dosen pembimbing atau dosen matakuliah? Mulai dari salam yang super formal, permohonan maaf yang berlapis-lapis, mengenalkan diri dari nama, NIM, kelas, jurusan, fakultas, sampai ke nama universitas.

Kamu baca ulang tiga kali, merasa ini udah "format lengkap paling sopan", lalu klik send.

Hasilnya? Cuma di-read.

Atau lebih parah, dibalas dua hari kemudian dengan satu kata:

"Ya." atau 

"Ke ruangan saya besok."

Sakit sih, tapi nyata. Di sini kita sering salah kaprah. Banyak dari kita yang mengira bahwa semakin panjang dan lengkap sebuah chat, maka akan semakin dinilai sopan oleh dosen. Padahal, kenyataannya? Enggak semua dosen punya waktu (dan kesabaran) buat baca esai di WhatsApp.

Kali ini, Ririz mau berbagi POV / sudut pandang kenapa chat pendek yang langsung ke inti justru lebih disukai dosen, tentunya tanpa menghilangkan rasa hormat.


Mengapa Dosen Benci Chat yang Terlalu Panjang?

Mari kita posisikan diri sebagai dosen.

Setiap hari, mereka menerima ratusan chat dari mahasiswa, belum lagi grup koordinasi jurusan, proyek penelitian, dan urusan keluarga.

Ketika melihat ada chat masuk yang panjangnya sampai harus di-scroll, psikologis manusia akan otomatis berpikir:

"Ah, ini ribet. Nanti aja deh bacanya kalau luang." 

Akhirnya? Chat kamu tertimbun dan terlupakan.


Dosen itu praktis. Mereka menghargai waktu. Format yang terlalu bertele-tele justru mengaburkan apa yang sebenarnya kamu butuhkan.

Rumus Chat: Singkat + Sopan + Solutif

Sopan itu bukan berarti harus panjang. Sopan itu adalah tahu etika, tahu waktu, dan menghargai waktu orang lain. Daripada mengirim teks sepanjang 3 paragraf, kamu bisa memotongnya menggunakan rumus 3S (Salam, Status, Solusi/Inti).


Bingung? tenang,

Mari kita bandingkan dua contoh di bawah ini:

❌ Contoh yang Kurang Efektif (Terlalu Panjang & Bertele-tele):

"Selamat pagi Bapak Budi yang terhormat. Mohon maaf mengganggu waktu Bapak di pagi hari ini. Perkenankan saya Ririz Pratiwi, mahasiswa bimbingan Bapak dari angkatan 202X dengan NIM 123456. Saya ingin menginfokan bahwa progres skripsi saya di Bab 3 kemarin ada sedikit kendala di bagian metode penelitian karena data yang saya cari di lapangan ternyata tidak sesuai dengan teori yang Bapak berikan minggu lalu. Oleh karena itu, jika Bapak ada waktu luang minggu ini, saya ingin sekali berkonsultasi mengenai kelanjutan skripsi saya ini agar tidak salah arah. Kira-kira kapan ya Pak saya bisa menemui Bapak di kampus? Terima kasih banyak sebelumnya Pak."

 

Kenapa ini di-ghosting? Karena dosen harus membaca seluruh paragraf hanya untuk mencari tahu bahwa kamu ingin bimbingan Bab 3.

Contoh yang Efektif (Singkat, Padat, Tetap Sopan):

"Selamat pagi Pak Budi. Saya Ririz Pratiwi, mahasiswa bimbingan skripsi Bapak.

Izin bertanya Pak, apakah ada waktu luang di kampus minggu ini untuk konsultasi revisi Bab 3? Ada kendala sedikit terkait metode lapangan yang ingin saya diskusikan. Terima kasih banyak, Pak."

 

Kenapa ini cepat dibalas? Karena dosen langsung tahu:

  1. Siapa kamu (Ririz, anak bimbingannya).

  2. Apa maumu (Konsultasi Bab 3).

  3. Apa masalahnya (Kendala metode lapangan).


Tips Tambahan ala Ririz Saat Chat Dosen

  • To the Point di Paragraf Pertama

Jangan biarkan tujuan utamamu ada di baris paling bawah.
  • Gunakan Kalimat Aktif

Hindari kata-kata sayap seperti "Apabila tidak merepotkan..." atau "Jika Bapak berkenan dan tidak sibuk...". Ganti langsung dengan "Izin bertanya waktu luang Bapak...".
  • Gunakan Bullet Points Jika Ada Pilihan: Kalau kamu mau menawarkan waktu, buat jadi daftar ringkas.

Contoh: "Saya siap di kampus hari Senin jam 10.00 atau Rabu jam 13.00, Pak." (Ini memudahkan dosen tinggal memilih angka/hari).

Kesimpulan

Menjadi mahasiswa yang sopan bukan berarti kamu harus mengirim pesan formal yang kaku dan panjang. Justru, dengan mengirimkan chat yang ringkas dan langsung ke inti, kamu sedang menunjukkan bahwa kamu menghargai waktu sibuk dosenmu.

Jadi, sebelum klik tombol kirim besok pagi, coba edit kembali chatmu. Buang kalimat-kalimat yang drama, sisakan intinya, dan jaga bahasanya tetap santun.

Kalau menurut kamu, dosen di kampusmu lebih suka dichat panjang atau pendek nih? Tulis di kolom komentar, ya!

Sampai jumpa di cerita Ririz berikutnya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Pribadi Daftar KIPK: Dari Ragu Sampai Lolos Seleksi Mandiri PTS!

Pendahuluan Waktu pertama kali dengar tentang KIP Kuliah , aku sama sekali nggak ngerti harus mulai dari mana. Informasinya banyak, syaratnya panjang, dan rasanya rumit. Tapi... setelah aku coba jalani sendiri, ternyata prosesnya bisa dilewatin dengan tenang asal ikut langkah-langkahnya (sesuai prosedur) pastinya. Selain artikel pertama yang aku publish , melalui artikel ini aku mau berbagi pengalaman daftar KIPK , dari pengenalan sejak SMA, jalani tahapannya sendiri sampai tips sederhana yang biasanya bikin bingung tapi bagus buat dijadikan pembelajaran. Kenapa sih Aku Daftar KIPK? Sejujurnya, keputusan untuk daftar KIPK itu bukan sesuatu yang langsung muncul di kepalaku. Aku butuh waktu untuk benar-benar yakin. Waktu itu, aku masih bingung antara “berani mencoba” atau “takut nggak diterima karena merasa nggak cukup layak”.  Tapi ada 3 alasan yang akhirnya mendorong aku buat nekat daftar :)  1. Latar belakang ekonomi keluarga Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Ibuku ...

Kaget Jadi Maba? Tenang, Kamu Gak Sendirian kok, Berikut Ini 8 Penyebab dan Tips Terbaik untuk Mengatasinya

Masuk kuliah merupakan fase transisi yang besar. Banyak orang mikir kuliah itu hanya “sekolah dengan versi yang lebih bebas”, padahal sebenarnya ialah dunia baru yang cara kerjanya berbeda. Karena itu, culture shock hampir pasti dialami mahasiswa baru, entah itu ringan atau bahkan yang berat sekalipun. Halooo... Aku Ririz, penulis pemula di blogger . Di artikel kali ini, aku akan membahas apa saja culture shock paling nyata yang aku dialami selama minggu pertama menjadi maba , kenapa bisa terjadi , dan cara adaptasi terbaik supaya kamu tetap produktif dan tetap menikmati masa kuliah . Dari yang terlihat pada umumnya, kehidupan kampus itu keren ga sih? jadwal yang fleksibel, lingkungan lebih bebas dan luas, lebih banyak organisasi seru, dan kesempatan bertemu orang-orang baru dari berbagai daerah. Tapi... ketika hari pertama benar-benar tiba, banyak maba yang sadar bahwa dunia kampus ternyata tidak se-“simple” yang dibayangkan. Kayak yang dilihat di film, pemerannya cuma kupu-kupu ...